Type something and hit enter

ads here
author photo
By On
advertise here
Xiaomi selama ini selalu mengandalkan posnel dengan produk kelas bawah dan menengah untuk mendominasi pangsa pasar di Indonesia. Namun dengan demikian Xiaomi juga memiliki smartphone dengan kualitas kelas atas seperti smartphone Bezel Less seri Mi Mix dan ponsel dual camera Mi6. Saat ini pun smartphone jenis flagship Xiaomi hanya dapat di beli di sejumlah e-commerce atau toko retail namun status smartphone tersebut masih black market (BM) atau tidak resmi. Meski demikian, CEO Xiaomi, Lei Jun, menyampaikan bahwa janji akan meluncurkan produk smartphone "Flagship" di Indonesia secara resmi. 


“Tahun 2018, kami akan meluncurkan flagship di Indonesia. Ponsel flagship kami memiliki kualitas sama (dengan kompetitor sekelas), tapi harganya lebih murah,” ujar Jun menanggapi pertanyaan dari wartawan. Jun tak merinci lebih jauh “flagship” mana persisnya yang bakal dipasarkan di Indonesia. Tapi Director Product Management and Marketing Xiaomi Global, Donovan Sung, memberi sedikit kisi-kisi. “Ponsel ‘flagship’ kami adalah model-model yang namanya memakai kata ‘Mi’ (seperti Mi Mix, dan Mi 6),” ujar Donovan. “Xiaomi Mi A1 sudah termasuk ke dalam level ‘flagship’ ini,” tambahnya.

Xiaomi Mi A1 diluncurkan pada September lalu di Indonesia. Kendati disebut sebagai ‘flagship’ atau andalan yang biasanya berupa ponsel kelas high-end, spesifikasi Mi A1 yang merupakan smartphone Android One sebenarnya termasuk papan tengah. Jeroan Xiaomi Mi A1 termasuk chip Snapdragon 625, RAM 4 GB, storage 64 GB, baterai 3.080 mAh, serta fitur andalan berupa kamera ganda (bersudut pandang normal dan tele) dengan resolusi 12 megapiksel. Untuk tahun 2018, Donovan mengatakan pihaknya bakal mengevaluasi seluruh jajaran ponsel Xiaomi yang akan dipasarkan di Indonesia. “Kami akan nilai mana yang cocok untuk dijual di Indonesia,” katanya.

Meski hanya mengandalkan produk kelas menengah dan bawah, Xiaomi berhasil merangsek menjadi salah satu dari 5 pabrikan ponsel pintar terbesar di Indonesia, menurut data dari firma riset pasar IDC untuk kuartal 3 2017. Ketika menghadiri acara Qualcomm Snapdragon Tech Summit 2017 di Hawaii, Amerika Serikat, awal bulan ini, Jun sempat mengungkapkan alasan mengapa pihaknya belum merilis smartphone kelas atas di Indonesia. “Tantangan utama di Indonesia adalah keharusan untuk memanufaktur perangkat secara lokal,” ujar Jun ketika itu.

Jun mengacu pada persyaratan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) minimal sebesar 30 persen untuk ponsel-ponsel 4G yang dipasarkan di Indonesia. Konon Xiaomi sempat terbentur persyaratan ini sebelum akhirnya menjalin kerja sama dengan PT Sat Nusapersada di Batam untuk memenuhi persyaratan TKDN lewat jalur manufaktur hardware. Persoalannya, menurut Jun, saat ini masih sulit untuk memproduksi ponsel-ponsel flagship Xiaomi secara lokal di fasilitas manufaktur di Indonesia. “Jadi, local manufacturing di Indonesia mesti ditingkatkan dulu,” imbuh Jun.

Click to comment